Sabtu, 22 Mei 2010

BAGAIMANA SIKAP KITA MENGHADAPI PENDERITAAN?

R E N U N G A N

"Penderitaan akan semakin menjadi penderitaan, jika membiarkan diri kita didera terus-menerus olehnya." Rumitkah ungkapan ini? Mari kita menguraikan dan membahas kalimat ini!

Kita kadang-kadang dilanda kesedihan, musibah yang tak terduga atau penderitaan lain yang datang memporak-porandakan kebahagiaan kita. Penderitaan yang datang tak diundang itu membuat dunia jadi gelap, dan amat menyiksa. Sering kali, kita menganggap dunia ini kejam, Tuhan tidak adil. Padahal kita sudah berbuat baik, kenapa penderitaan sebagai balasannya? Efeknya membuat kita stress, tidak enak makan dan tidur. Terkadang juga timbul marah kepada orang lain, padahal dia tidak ada kaitannya dengan penderitaan yang kita alami. Ringkasnya, memang setiap penderitaan yang mendera akan membuat seluruh jiwa raga kita sakit.

Apakah kita dapat menolak penderitaan? "... Semua orang pasti akan kebagian penderitaan."(1) Dari ungkapan itu jelas, penderitaan tidak dapat ditolak. Dia pasti akan datang pada suatu saat. "Saya dan nasib saya merupakan satu kesatuan, nasib baik dan buruk bukan suatu yang asing bagi saya, melainkan dianggap sebagai milik saya."(2) Penderitaan dan kebahagiaan, ibarat dua sisi mata uang logam, yang melekat satu sama lain. Dua sisi yang kontradiktif itu berputar dalam kehidupan, bila takdir penderitaan tiba; kita harus menerimanya. Bahkan kita tidak dapat minta penundaan. Tidak ada orang yang tidak mengalami penderitaan, yang berbeda hanya intensitasnya.

Mungkin yang harus kita pikirkan adalah : Bagaimana tindakan kita dalam menghadapi penderitaan? Kita bisa memikirkan terus penderitaan yang kita alami. Kita sering termenung, bersedih atau bahkan menangis. Kita juga bisa membawa penderitaan itu kemana-mana; dibawa tidur, ke kampus atau ketempat kerja. Muka kita murung, muka pucat, pandangan hampa, langkah gontai, dan sebagainya. Apakah mesti seperti itu sikap kita menghadapi penderitaan?

Penderitaan itu memang ada, itu pakta! Tetapi kalau mesti dirasakan terus-menerus, kita akan semakin menderita. "Yang mengalami kan saya, bukan kamu!" Itu jawaban yang bisa tercetus pada orang yang mengalami penderitaan. Memang ada istilah, penonton lebih pintar dari pemain. Itu memang, tapi bukan itu masalahnya. Kita kita tidak "terkungkung" dalam penderitaan yang kita alami, kita harus berusaha "menihilkan" penderitaan. Kita dapat pergi dan bersenang-senang dengan teman. Tidak bersedih terus, berusaha usir penderitaan dengan aktivitas. Ringkasnya, jangan biarkan penderitaan menganggu kegiatan kita; jangan biarkan dia menngendap terus dalam jiwa. Jangan biarkan orang tau kita mengalami suatu penderitaan, karena bisa ada orang yang senang lihat kita susah, bukannya peduli.

Ayo, bergembiralah! Jadikan setiap penderitaan yang kita alami, sebagai cambuk membuat kita lebih matang. "Bukankan ada ungkapan "Tuhan tidak akan memberi cobaan, melebihi kemampuan umatnya."


@dhimas p. (23/10/2010)

Keterangan : Kutipan (1) dan (2) dari buku karangan Harry Hamersma, Filsafat EksistensiKarl Jasper, Penerbit PT. Gramedia, Jakarta, 1985.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar