Selasa, 20 Juli 2010

APAKAH CINTA ITU ADA?

Artikel



Dalam Realitas pergaulan pria-wanita, cinta itu dimengerti secara dangkal dan remeh. Bila sudah terjalin hubungan yang "dekat" kata cinta dan pernyataan cinta adalah sesuatu gampang terucap. Dan bila sudah ada pernyataan "saling-ucap jatuh cinta", diasumsikan mereka sudah saling mencintai satu sama lain. Apakah segampang itu wujud cinta? Seandainya kemudian hubungan mereka putus, diasumsikan juga cinta itu telah putus. dan ini menimbulkan pertanyaan lain :"apakah kalau pria dan wanita menyatakan mereka putus dan tidak bersama lagi, cinta juga akan hilang?"

Cinta sering juga diartikan pertukaran yang menguntungkan dari pria-wanita yang menjalin hubungan cinta. Terkadang orang menghitung-hitung :"Kalau aku pacaran sama dia apa untungnya, ya?" Sering seorang wanita dalam "mendekati" pria, ia akan mengkalkulasi terlebih dulu. Seperti : Pangkat, kedudukan, kekayaan,karier dan sebagainya, dipakai sebagai pra-syarat. Bila menemukan pasangan yang dianggap 'se-level', dia baru akan menjalin cinta. Dalam hal ini ada kalkulasi untung-rugi dalam menjatuhkan pilihan untuk mencintai. Layaknya seperti bisnis saja, 'profit,' jadi pertimbangan. Apakah cinta menghitung untung-rugi?

Kemudian juga ada istilah lain yang membingungkan, seperti : Cinta abadi, cinta suci dan cinta buta dan lain-lain. Biasanya gampang sekali kata-kata tersebut terlontar, tanpa ada definisi yang masuk akal. Kalau sepasang manusia menjalin cinta, kemudian menikah dan bertahan dalam pernikahan selama 50 tahun; akhirnya bercerai. Apakah itu artinya cinta mereka tidak abadi? Kemudian ada istilah cinta suci, ini ungkapan yang membingungkan. Apanya yang suci? apakah niatnya harus suci atau "kelakuaannya" tidak boleh macam-macam? Cinta buta, Apalagi pengertiannya? Kalau dalam maksud, kalau mencintai seseorang tidak boleh memandang jelek-cakap, kaya-miskin. Itu memang benar! Banyak sekali kata-kata cinta atau ungkapan yang biasa dipakai dalam pergaulan secara umum.

Apakah cinta? Menurut filsut Gabriel Marcel, cinta diawali dengan imbauan kepada sesama. Dalam cinta "aku" mengibau agar "engkau" bersedia "hadir" dan bersatu menjadi "kita."Dan himbauan yang sama keluar juga dari "engkau" kepada "aku." Artinya disini ada syarat saling "mengimbau." Dalam proses pengimbau, perlu suatu kesediaan (disponibilite) untuk mendengar dan saling menjawab imbauan. Aku dan engkau harus keluar dari 'egoisme' dan membuka diri menjawab imbauan. Jika imbauan saling terjawab, hubungan mereka akan terjalin dalam dimensi yang disebut "cinta."

Dalam pengalaman cinta, terkandung makna "mengikat diri"(engagement) dan tetap "setia"(fidelite), kesetiaan ini disebut oleh Marcel sebagai "kesetiaan kreatif", sifatnya dinamis. Relasi "aku-engkau" tetap rapuh dan ada kecenderungan mundur ketahap relasi"aku-Ia."Marcel menekankan "kreatif dari kesetiaan" agar hubungan "Aku-Engkau" tetap berlangsung. Sifat "kreatif" identik dengan "seni." Karena itu tidak salah kalau Erich Fromm, dalam bukunya 'Art of Loving.' menekankan bahwa cinta adalah seni.
Keindahan seni akan terekploitir jika pelakunya mengembangkan kreatifitasnya, demikian juga dengan cinta. Dalam cinta perlu ada memformulasikan suatu "kreatifitas-dinamis", agar cinta tetap bertahan. Dan dalan dalam seni tidak ada batasan baku, yang diperlukan adalah keseimbangan dan dan harmonisasi.

Asumsi Gabriel Marcel, relasi "Aku-Engkau" tetap mungkin terrealisasi, meskipun labil, dapat turun ketingkat "Aku-Ia." Sungguh berbeda dengan Filsuf Jean Paul Sartre. Pendapat Sartre, setiap relasi sesama-manusia adalah konflik. Yang terjadi adalah saling mengobjekan; aku mengobjekan engkau, karena engkau tidak mau diobjekkan oleh aku, engkau melawan dan ganti akan mengobjekkan aku. Saling mengobjekkan, sehingga timbul konflik. Bagi Sartre relasi cinta akan berakhir dengan kegagalan. Sartre ada kalimat khas 'orang lain adalah neraka bagiku (l'enfer, c'est les autres), hadirnya orang lain adalah awal kejatuhanku.

Cinta akan hadir jika para subyek yang saling bercinta bersedia memperlakukan pasangannya sebagai sesama (subyek). "Aku" tidak boleh merendahkan "Engkau", Engkau juga demikan, harus memandang aku sebagai subyek yang memilik ke-khasan tersendiri. Jika seseorang yang menganggap mencintai pasangannya, kemudian "menekan" atau mengobjekkan pasangannya, ketika itu cinta akan hilang, relasi kebersamaannya turun ke taraf hubungan "Aku-Itu"(Subjek-Objek), Seperti yang digambarkan JP. Sartre.

Pembahasan Cinta dalam tulisan ini sebagian besar beracuaan pada pandangan Gabriel Marcel. Dan mengutip juga pendapat JP.Sartre, untuk mengambarkan bahwa dalam hubungan ideal dalam cinta dapat menjadi saling mengojekkan, yang oleh JP. Sartre di sebut "benci." . Kemudian mengutip juga teori Erich Fromm tentang seni dalam cinta, sebagai pendukung dan melengkapi teori Gabriel Marcel. Dalam artikel ini hanya membahas cinta dalam hubungan pria-wanita, tidak membahas cinta secara umum.





Pada suatu saat, seorang pria bertemu dengan seorang wanita. Sang pria, memandang ke pada wanita, dia tertarik; pada saat itulah 'imbauan' mulai dilancarkan oleh si pria. Imbauan tersebut bisa dengan cara tersenyum manis, mengangguk sopan, atau dengan bahasa tubuh. Apa pengertian imbauan? Imbauan adalah mengajak secara halus, tidak ada paksaan, biasanya ajakan dalam cinta di wujudkan dengan simbol-simbol. Ajakan disini tidak diartikan mendekat secara fisik, tetapi ajakan agar 'hati' saling bertaut. Jika sang wanita tertarik, di pun melancarkan imbauan kepada sang pria. Maka terjadilah saling mengimbau, yang diwujudkan dalam kebersamaan yang bernama cinta.

Realitasnya, si pria dan wanita datang dari latar belakang pribadi, suku, pendidikan dan kebiasaan yang berbeda. Bila saling bersikeras mempertahankan 'keakuannya', tanpa mau 'kompromi' hidup bersama dalam cinta sulit terwujud, yang terjadi adalah konplik. Masing-masing ingin menang, saling berebut kekuasaan, ingin dituruti; ingin ada yang mengalah. Bila terjadi ada yang 'terpaksa' mengalah, artinya salah satu pihak yang menjalin cinta akan menjadi 'objek' dari yang lain. Hubungan konflik inilah yang mendasari teori Jean Paul Sartre. Bagi Sartre, hubungan kongkrit pria dan wanita hanya dua pilihan. Si pria tuntuk kepada wanita dengan menjadikan dirinya sebagai objek dari si wanita sebagai subyek; atau sebaliknya. Bagi Sartre hubungan dalam cinta akan berakhir dengan kegagalan, yang ada hanyalah kebencian. Teori Sartre banyak menuai kritikan. Dalam kehidupan kongkrit selalu ada saatnya kebersamaan itu terwujud, walaupun rentan pecah, bila tak dapat mempertahankan.

Apakah cinta dapat terwujud? Bagi Gabriel Marcel, kalau masing-masing objek yang bercinta mau meninggalkan keakuaannya, hubungan cinta dapat terwujud. Ada, pertanyaan : "Kalau sang wanita tidak suka kapada pria, misalnya sang pria jorok, tidak rapi; bagaimana jalan keluarnya?" Karena, bukankan kalau langsung melarang akan terjadi konflik, dan meniadakan cinta?" Coba dengan saran, bukankan saran tidak memaksa? "Kalau dengan saran dia tidak berubah, gimana?" Yakinlah, kalau sang pria memang cinta, dia akan sukarela merubah kebiasaan buruknya.

Saya punya satu ungkapan :"Biarkan cinta merubah dirinya, jangan kita ingin merubah diri orang lain dengan mengatasnamakan 'cinta." BukankaH pernah ada ucapan seperti ini?: "Kalau kamu cinta saya, kamu harus rapi, tidak boleh jorok. Kalau kamu tidak mau nurut, artinya kamu tidak cinta saya." Saya menonton film Indecent Proposal, yang dibintangi Demi Moore, berperan sebagai Diana Murphy. Dalam film tersebut, Demi Moore sangat 'sebel' pada suaminya Woody Harrelson yang berperan sebagai David Murphy. Sang suami punya kebiasaan buruk, bila pulang kerja dia akan meletakkan sepatunya sembarangan di atas meja. Suatu saat mereka berjudi di sebuah hotel mewah, kalah, uang habis. Mereka bingung. Tingkah-laku Demi Moore diperhatikan oleh seorang pengusaha kaya Robert Redford yang berperan sebagai John Gage. Robert Redford tertarik pada Demi Moore. Kemudian sang milyuner mendekati Demi More, dan menawari kencan dengan bayaran 1 juta dollar. Setelah berembuk dengan sang suami, proyek kencan disepakati.

Sementara sang istri menyelesaikan proyek perkencanan, sang suami Woody Harrelson bila pulang kerja sendirian. Biasanya hadir sang istri tercinta, sekarang tidak lagi; kecuali ditemani seekor anjingnya. Dia merasa kesendirian dan kesepian, mulai dia sadar bahwa dia sangat mencintai istrinya. Seperti biasa, dibuka sepatu dan dilemparkan keatas meja. Ditatap sepatunya, kemudian diambil dan diletakkan di tempat yang semestinya. Dia ingat, istrinya tidak suka dia berlaku 'jorok.' Karena dia cinta pada istrinya dia mau merubah kebiasaan buruknya, padahal ketika itu tidak ada yang menyuruhnya. Kekuatan cintalah yang merubahnya.

Apakah cinta itu abadi? Bagi Gabriel Marcel, kata kunci untuk melukiskan hubungan dengan sesama adalah 'kehadiran' (presence). Pengertian 'hadir' disini tidak boleh diartikan 'berada-bersama,' atau 'hadir-di-tengah-tengah-banyak-orang'. Hadir disini bukan berarti berada di tempat yang sama atau satu ruangan yang sama. Kata 'hadir' disini tidak boleh dipahami secara 'objektif', dengan menerapkan konsep 'ruang dan waktu'. Bisa saja terjadi komunikasi antara dua orang dalam satu ruangan, tapi tidak mencapai taraf kehadiran yang dimaksud Gabriel Marcel. Bisa saja 'kehadiran seseorang' cuma dalam aspek fungsional (hubungan 'Aku-Ia). Aku bertemu dengan penjual rokok, polisi jalan raya, kondektur bis; memang ada komunikasi tetapi tidak intens.

Dua orang baru dapat hadir jika 'aku dan engkau' saling memandang sebagai sesama, sehati-sejiwa, seia-sekata. Hadir terjadi jika 'aku dan engkau' saling mengadakan kontak dengan sungguh-sungguh, terjadi pertemuan antara 'persona dengan persona.Bagi Marcel, Pengalaman 'kehadiran' direalisasikan secara istimewa dalam cinta (l'amour), dalam kontek ini aku-engkau mencapai taraf cinta. 'Aku' dan 'engkau' diangkat sedemian rupa oleh cinta, menjadi suatu kesatuan baru yang tak mungkin terpisahkan, kesatuan yang sungguh-sungguh komunikatif.

Bagi Marcel, mencintai berarti mengatakan 'engkau tidak adakan mati.' Karena kehadiran disini mengatasi ruang dan waktu. Kalau seorang pria mengalami kematian istri yang dicintainya, kehadiran istrinya akan berlangsung terus. Karena sebenarnya sang pria tidak kehilangan orang yang dicintainya, dia hanya kehilangan sesuatu yang dia punyai. Dalam kontek pemikiran Gabriel Marcel, cinta itu abadi, tidak ada istilah putus cinta. Bukankah ada kenyataan? Seorang pria yang telah kematian istrinya; tidak mau menikah lagi, dengan alasan dia sangat mencintai istrinya, yang sudah berada di alam lain. Ada juga realitas lain, karena dia mencintai istrinya, dia tidak akan selingkuh. Bila ada godaan berbuat serong, dia tidak dapat merealisasikannya; karena dia tidak mau menghianati cintanya pada sang istri. Dalam kontek ini, kalau seseorang telah memeiliki pasangan; tetapi masih mau berbuat selingkuh, patut dipertanyakan : "Sebenarnya dia benar-benar cinta atau tidak?"

Dengan canda seseorang berucap : "Cinta perlu ongkos!" ungkapan itu betul! Dalam seluruh aspek kehidupan, kita perlu harta-benda untuk menopang sendi-sendi kehidupan. Tetapi, harta dan uang tidak dapat menjadi acuan untuk mencintai seseorang. Kalau dalam mencintai seseorang memakai kriteria 'kebendaan', berarti sesungguhnya dia tidak mencintai manusia lain sebagai pribadi. Dia hanya mencintai 'predikat' yang melekat pada seseorang : harta, benda, pangkat dan kedudukan, dan lain sebagainya. Cinta yang diawali oleh imbauan tertuju kepada 'hati' seseorang, bukan benda. Cinta berarti mau menerima seseorang sebagaimana dia ada, dengan kelebihan bakat-bakat rohani, bakat-bakat perasaan, watak dan tabiatnya. Cinta artinya menerima seseorang dengan kekurangan dan kelebihannya, kejeniusan dan ketololannya, keistimewaan dan kekonyolannya. Cinta harus dibangun dengan alasan niat yang bersih (suci), yang tertuju kepada subyek yang kita cintai; tidak dengan pretensi lain. Saya ingat satu judul lagi barat, yang mengdeskripsikan cinta : 'Ilove you just the way you're.'




Ada satu kalimat yang pernah saya ingat : "kita dapat berteori tentang cinta, tapi cinta bukan teori." mulanya cinta memang imbauan dari seorang ke orang lain; imbauan itu dari 'hati' ke hati. Imbauan dikongkritkan dengan sikap, bicara gerak-gerik dan sebagainya. Jika sinyal imbauan itu saling ditangkap maka cinta itu 'hadir' dalam hati masing-masing. ringkasnya, sepasang manusia akan bersatu dalam hubungan ideal sesama manusia yang disebut 'cinta.' Dalam cinta harus menganggap pasangan sebagai subyek, tidak boleh mengobjekkan; harus ada kemauan menerima 'dirinya' secara utuh.

Problematikanya? Pada mulanya subyek-subyek yang bercinta memang diliputi kebahagian dan kemesraan. Hati bertemu dengan hati, kebahagian terpancar; dibenak masing-masing hanya terpatri hanya si'dia.' Melalui pergaulan yang intens, mulai terasa banyak perbedaan; sifat, kebiasaan, karakter, adat istiadat dan sebagainya. Persekutuan dalam cinta dapat pecah, kemudian akan timbul konflik. Dalam hal ini, tidak ada jalan lain harus ada kemauan untuk saling membuka diri untuk mempertahankan mahligai cinta, dengan meninggalkan egoisme pribadi. Dalam kondisi ini trik-trik seni untuk mengikat erat cinta yang retak harus sama-sama diusahakan.

Untuk bersama secara fisi memang gampang, kita tinggal mengajak pasangan kita kemana pun kita pergi, kebersamaan itu pun bisa disaksikan orang lain. Tapi apakah hati masing-masing masih bertaut? Karena cinta itu bukan hubungan fisik, tetapi hubungan dari hati-kehati dengan segala ketulusan.

buku-buku acuan :

1. Dr. K. Bertens dan Drs. A.A. Nugroho (Red.), Filsafat Barat Abab XX, Jilid II,Prancis, Penerbit Gramedia, 1985.

2. Frans Syuni Stytto, Arti dan Prototipe Kehadiran Sesama, menurut Gabriel Marcel, Penerbit PT. BPK Gunung Mulia, Cet.I, 1988.

3. Khoirul Rosyadi, Cinta dan Keterasingan, Penerbit LKIS Yogyakarta, Cet.I,
Juni 2000.

4. FX. Mudji Sutrisno (Ed.), Manusia dalam Pijar-pijar Kekayaan Dimensinya, Penerbit Kanisius, Cet.I, 1993

@dhimas p.(26/04/2010)

BILAKAH KEBAHAGIAAN DATANG?

Sebuah Renungan


"Aku bahagia kalau aku sudah kaya,"demikianlah jawaban bagi si miskin. Dia tentu membayangkan, kalau sudah kaya tentu punya mobil banyak, kemana-mana tidak naik angkutan umum; rumah mewah ber-AC, baju bagus-bagus dan ber-merek, perhiasan berlimpah, dan sebagainya. Dalam pikiran si miskin semua harta dan kemewahan itu akan membuat dia bahagia. Apa realitasnya demikian?

Saya teringat satu kisah yang pernah diceritakan oleh sahabat saya :
Pada suatu sore menjelang malam, disebuah pantai perkampungan nelayan. Diufuk barat mentari hampir tenggelang, namun menyisakan pemandangan yang sangat indah. Cakrawala dihiasi lukisan alam dengan nuansa warna merah yang eksotis.

Para nelayan bergegas mendorong perahunya ke laut. Dengan kondisi yang seperti ini sudah terbayang keuntungan yang akan diraih. "Tangkapan ikan pasti berlimpah,"pikir mereka.Tapi ada seorang nelayan, yang tidak terpengaruh kegiatan itu. Dia hanya duduk santai di perahu, sambil menatap keindahan alam. Raut wajahnya demikian takjub pada panorama yang dinikmatinya. Wajahnya bersih, bibirnya tersenyum simpul. Dari pancaran wajahnya tampak sekali dia sedang bahagia.
Tiba-tiba temannya menegur: "Hai,Bung! Anda tidak melaut?"
"Untuk apa?"
"Ya, menangkap ikan yang banyak, supaya anda banyak uang."
"Lantas?"
"Kalau ada punya banyak uang, anda bisa membeli perahu lagi. Kalau perahu banyak, tentu saja hasil ikan tambah banyak. Uang anda pasti akan berlimpah."
"Setelah itu?"
"Kalau anda sudah kaya, bukankah anda bisa membeli perpuluh-puluh perahu. Dan Anda hanya perlu merengkrut anak buah, anda menjadi saudagar ikan."
"Terus, kalau saya sudah jadi saudagar ikan, dan kaya-raya. Gimana?"
"Ya, anda akan bahagia."
"Lho, memangnya saya sedang apa?"


@dhimas_p.(24/04/2010}

Kamis, 08 Juli 2010

BELAJAR BIJAK DARI SOCRATES

Artikel


"Hidup yang tidak pernah direfleksikan adalah hidup yang tak pantas dijalani." Dengan keyakinan itulah Socrates berkelana, mengajak dan menerangkan bahwa belajar dari alam dan lingkungan sosial adalah satu bentuk kongkrit. Socrates pergi keberbagai tempat dan berdialog dengan orang-orang. Dia mengajak mereka mempertanyakan berbagai hal dan membantu mereka menemukan jawabannya.

Siapa Socrates? Dia adalah filsuf Yunani kuno yang lahir tahun 470SM dan dihukum mati tahun 399SM. Dalam berfilsafat Socrates menggunakan metode dialogis. Dia tidak mengajarkan apa-apa, orang-orang pun tidak perlu mencatat; karena dia tidak pernah menjelaskan apapun. Sokrates hanya mengajukan pertanyaan, kemudian menunjukkan kesalahan dari jawaban, dan menanyakan lebih jauh lagi. Sehingga orang yang diajak berdialog terasah berpikir kritis, menggali konsep-konsep tema dialognya secara lebih mendetail.

Pertanyaan yang diajukan Socrates biasanya pertanyaan yang umum. Apa itu kebajikan? Apa itu keberanian? Apa keadilan? Jawaban yang diberikan pendengar (orang yang diajak berdialog) berbentuk suatu definisi. Keberanian adalah______, Socrates kemudian mementahkan definisi tersebut dengan menunjukkan definisi tersebut terlalu sempit, bias dan tak berdasar. Socrates selalu mengganggap jawaban pertama sebagai hipotesis, kemudian mengajukan pertanyaan lanjutan untuk menguji hipotesis itu. Jika hipotesis pertama tidak bisa dipertahankan, maka hipotesis itu diganti dengan hipotesis lain, dan kemudian diuji lagi melalui dialog.

Socrates tidak menyelidiki fakta-fakta, dia hanya menganalisa pendapat-pendapat yang dikemukan orang. Pertanyaan yang diajukan Socrates adalah mengenai pekerjaan mereka dan soal-soal praktis sehari-hari. Socrates mengajak dan menerangkan bahwa belajar dari alam adalah suatu bentuk kongkrit, yang akan menjelaskan siapa? Dan apa gunanya kehidupan manusia? Bagi Socrates, hakekat manusia senantiasa berlajar dari alam dan kembali ke alam untuk belajar.

Metode dialog Socrates dinamakan metode Socratik (Metode dialektika). Metode ini adalah pencarian pengetahuan dengan mengunakan pertanyaan dan jawaban. Karena tidak mengajarkan apa-apa, Socrates mengaku tidak tahu apa-apa. Karena sikap itu orang menganggap suatu "ironi." Sehubungan dengan "ironi" ini, Socrates menekankan bahwa dia tidak memberi pelajaran apapun dan tidak mempunyai murid. Meski nyatanya dia mempunyai murid, salah seorangnya yaitu filsuf : Plato.

Suatu contoh pelajaran dari Socrates; suatu saat beberapa muridnya meminta pendapat Socrates tentang hakekat kehidupan manusia.

Socrates membawa mereka ke pinggir sebut hutan buah, dan berpesan, "Kalian masing-masing berjalan menelusuri barisan pohon-pohon buah ini, berjalan dari ujung yang satu ke ujung lainnya. Setiap orang boleh memetik satu buah yang kalian anggap paling baik. Tidak boleh balik kembali, dan tidak boleh melakukan pilihan yang kedua kali."

Para murid melakukan permintaan Socrates. Mereka dengan serius melakukan seleksi. Ketika tiba di ujung hutan buah, sang guru sudah menanti kedatangan mereka.

Socrates bertanya kepada murid-muridnya, "Apakah kalian sudah mendapatkan buah yang kalian anggap paling baik?"

Salah satu muridnya menjawab,"Guru, ijinkan saya memilih sekali lagi. Tadi sewaktu saya masuk ke dalam hutan, saya melihat buah besar dan bagus. Tetapi saya tidak memetik buah itu, karena saya takut di depan sana masih ada buah yang lebih besar dan lebih bagus. Ketika saya berjalan hingga ke ujung hutan buah, saya baru menyadari bahwa buah yang pertama kali saya jumpai adalah buah yang paling besar dan bagus."

Murid-murid yang lain juga memohon agar diijinkan memilih sekali lagi. Dengan menggeleng-gelengkan kepala Socrates berkata,"Anak-anak sekalian, memang demikianlah kehidupan ini, tidak ada kesempatan memilih yang kedua-kalinya."

Di dalam perjalanan hidup ini, kesempatan yang diberikan pada setiap orang boleh dikatakan sama rata. Ada orang yang langsung bisa meraih dan memegang erat kesempatan; tetapi banyak juga orang yang menyesal dan telah kehilangan kesempatan baik. Mereka yang kehilangan kesempatan, ada yang karena bimbang dan tidak bersikap tegas, ada juga karena berambisi terlalu besar. Banyak sekali kesempatan emas di dunia ini, yang tidak akan memberi kesempatan kepada kita untuk memilik yang kedua kalinya.

Socrates tidak mempunyai batas. Dia selalu menjalani pekerjaan dengan sungguh-sungguh, dengan semangat seakan-akan mendapat panggilan untuk menyampaikan pemikirannya kepada orang yang ditemuinya. Dia tidak memandang siapa orang itu dan apa kedudukkannya. Karena itu dia dituduh merusak jiwa anak-anak muda Athena dengan ajaran filsafatnya. Di usia yang ke-70, Socrates di hukum mati, meminum cawan berisi racun. Demi keyakinannya, Socrates memilih melaksanakan hukuman itu, meski dia punya kesempatan untuk melarikan diri.

Saya ingat satu pepatah minang-kabau, "Alam terkembang jadi guru." Alam semesta ini adalah guru bagi kita, hanya tergantung dari kita. Apakah kita akan mengambil hikmahnya, atau mengabaikan. Sebuah contoh kecil : Ketika ada daun tua yang gugur kebumi, bukankah dia sedang berdialog dengan kita? bahwa itulah hidup. Kehidupan ada batasnya. Yang tua akan punah ditelan waktu dan di ganti oleh tunas-tunas muda.


dhimas p.(08/07/2010)



Bahan-bahan Acuan :
1. Dr. K. Bertens, Ringkasan Sejarah Filsafat, Penerbit Kanisius, Cet. ke-8, 1990.
2. ___________, Sejarah Filsafat Yunani, Penerbit Kanisius, Cet. ke-8, 1991.
3. http://www.bukabuku.com
4. http://e-smarschool.co.id
5. http://makalah-fifacom.blogspot.com


Sabtu, 22 Mei 2010

BAGAIMANA SIKAP KITA MENGHADAPI PENDERITAAN?

R E N U N G A N

"Penderitaan akan semakin menjadi penderitaan, jika membiarkan diri kita didera terus-menerus olehnya." Rumitkah ungkapan ini? Mari kita menguraikan dan membahas kalimat ini!

Kita kadang-kadang dilanda kesedihan, musibah yang tak terduga atau penderitaan lain yang datang memporak-porandakan kebahagiaan kita. Penderitaan yang datang tak diundang itu membuat dunia jadi gelap, dan amat menyiksa. Sering kali, kita menganggap dunia ini kejam, Tuhan tidak adil. Padahal kita sudah berbuat baik, kenapa penderitaan sebagai balasannya? Efeknya membuat kita stress, tidak enak makan dan tidur. Terkadang juga timbul marah kepada orang lain, padahal dia tidak ada kaitannya dengan penderitaan yang kita alami. Ringkasnya, memang setiap penderitaan yang mendera akan membuat seluruh jiwa raga kita sakit.

Apakah kita dapat menolak penderitaan? "... Semua orang pasti akan kebagian penderitaan."(1) Dari ungkapan itu jelas, penderitaan tidak dapat ditolak. Dia pasti akan datang pada suatu saat. "Saya dan nasib saya merupakan satu kesatuan, nasib baik dan buruk bukan suatu yang asing bagi saya, melainkan dianggap sebagai milik saya."(2) Penderitaan dan kebahagiaan, ibarat dua sisi mata uang logam, yang melekat satu sama lain. Dua sisi yang kontradiktif itu berputar dalam kehidupan, bila takdir penderitaan tiba; kita harus menerimanya. Bahkan kita tidak dapat minta penundaan. Tidak ada orang yang tidak mengalami penderitaan, yang berbeda hanya intensitasnya.

Mungkin yang harus kita pikirkan adalah : Bagaimana tindakan kita dalam menghadapi penderitaan? Kita bisa memikirkan terus penderitaan yang kita alami. Kita sering termenung, bersedih atau bahkan menangis. Kita juga bisa membawa penderitaan itu kemana-mana; dibawa tidur, ke kampus atau ketempat kerja. Muka kita murung, muka pucat, pandangan hampa, langkah gontai, dan sebagainya. Apakah mesti seperti itu sikap kita menghadapi penderitaan?

Penderitaan itu memang ada, itu pakta! Tetapi kalau mesti dirasakan terus-menerus, kita akan semakin menderita. "Yang mengalami kan saya, bukan kamu!" Itu jawaban yang bisa tercetus pada orang yang mengalami penderitaan. Memang ada istilah, penonton lebih pintar dari pemain. Itu memang, tapi bukan itu masalahnya. Kita kita tidak "terkungkung" dalam penderitaan yang kita alami, kita harus berusaha "menihilkan" penderitaan. Kita dapat pergi dan bersenang-senang dengan teman. Tidak bersedih terus, berusaha usir penderitaan dengan aktivitas. Ringkasnya, jangan biarkan penderitaan menganggu kegiatan kita; jangan biarkan dia menngendap terus dalam jiwa. Jangan biarkan orang tau kita mengalami suatu penderitaan, karena bisa ada orang yang senang lihat kita susah, bukannya peduli.

Ayo, bergembiralah! Jadikan setiap penderitaan yang kita alami, sebagai cambuk membuat kita lebih matang. "Bukankan ada ungkapan "Tuhan tidak akan memberi cobaan, melebihi kemampuan umatnya."


@dhimas p. (23/10/2010)

Keterangan : Kutipan (1) dan (2) dari buku karangan Harry Hamersma, Filsafat EksistensiKarl Jasper, Penerbit PT. Gramedia, Jakarta, 1985.