Artikel
Dalam Realitas pergaulan pria-wanita, cinta itu dimengerti secara dangkal dan remeh. Bila sudah terjalin hubungan yang "dekat" kata cinta dan pernyataan cinta adalah sesuatu gampang terucap. Dan bila sudah ada pernyataan "saling-ucap jatuh cinta", diasumsikan mereka sudah saling mencintai satu sama lain. Apakah segampang itu wujud cinta? Seandainya kemudian hubungan mereka putus, diasumsikan juga cinta itu telah putus. dan ini menimbulkan pertanyaan lain :"apakah kalau pria dan wanita menyatakan mereka putus dan tidak bersama lagi, cinta juga akan hilang?"
Cinta sering juga diartikan pertukaran yang menguntungkan dari pria-wanita yang menjalin hubungan cinta. Terkadang orang menghitung-hitung :"Kalau aku pacaran sama dia apa untungnya, ya?" Sering seorang wanita dalam "mendekati" pria, ia akan mengkalkulasi terlebih dulu. Seperti : Pangkat, kedudukan, kekayaan,karier dan sebagainya, dipakai sebagai pra-syarat. Bila menemukan pasangan yang dianggap 'se-level', dia baru akan menjalin cinta. Dalam hal ini ada kalkulasi untung-rugi dalam menjatuhkan pilihan untuk mencintai. Layaknya seperti bisnis saja, 'profit,' jadi pertimbangan. Apakah cinta menghitung untung-rugi?
Kemudian juga ada istilah lain yang membingungkan, seperti : Cinta abadi, cinta suci dan cinta buta dan lain-lain. Biasanya gampang sekali kata-kata tersebut terlontar, tanpa ada definisi yang masuk akal. Kalau sepasang manusia menjalin cinta, kemudian menikah dan bertahan dalam pernikahan selama 50 tahun; akhirnya bercerai. Apakah itu artinya cinta mereka tidak abadi? Kemudian ada istilah cinta suci, ini ungkapan yang membingungkan. Apanya yang suci? apakah niatnya harus suci atau "kelakuaannya" tidak boleh macam-macam? Cinta buta, Apalagi pengertiannya? Kalau dalam maksud, kalau mencintai seseorang tidak boleh memandang jelek-cakap, kaya-miskin. Itu memang benar! Banyak sekali kata-kata cinta atau ungkapan yang biasa dipakai dalam pergaulan secara umum.
Apakah cinta? Menurut filsut Gabriel Marcel, cinta diawali dengan imbauan kepada sesama. Dalam cinta "aku" mengibau agar "engkau" bersedia "hadir" dan bersatu menjadi "kita."Dan himbauan yang sama keluar juga dari "engkau" kepada "aku." Artinya disini ada syarat saling "mengimbau." Dalam proses pengimbau, perlu suatu kesediaan (disponibilite) untuk mendengar dan saling menjawab imbauan. Aku dan engkau harus keluar dari 'egoisme' dan membuka diri menjawab imbauan. Jika imbauan saling terjawab, hubungan mereka akan terjalin dalam dimensi yang disebut "cinta."
Dalam pengalaman cinta, terkandung makna "mengikat diri"(engagement) dan tetap "setia"(fidelite), kesetiaan ini disebut oleh Marcel sebagai "kesetiaan kreatif", sifatnya dinamis. Relasi "aku-engkau" tetap rapuh dan ada kecenderungan mundur ketahap relasi"aku-Ia."Marcel menekankan "kreatif dari kesetiaan" agar hubungan "Aku-Engkau" tetap berlangsung. Sifat "kreatif" identik dengan "seni." Karena itu tidak salah kalau Erich Fromm, dalam bukunya 'Art of Loving.' menekankan bahwa cinta adalah seni.
Keindahan seni akan terekploitir jika pelakunya mengembangkan kreatifitasnya, demikian juga dengan cinta. Dalam cinta perlu ada memformulasikan suatu "kreatifitas-dinamis", agar cinta tetap bertahan. Dan dalan dalam seni tidak ada batasan
Asumsi Gabriel Marcel, relasi "Aku-Engkau" tetap mungkin terrealisasi, meskipun labil, dapat turun ketingkat "Aku-Ia." Sungguh berbeda dengan Filsuf Jean Paul Sartre. Pendapat Sartre, setiap relasi sesama-manusia adalah konflik. Yang terjadi adalah saling mengobjekan; aku mengobjekan engkau, karena engkau tidak mau diobjekkan oleh aku, engkau melawan dan ganti akan mengobjekkan aku. Saling mengobjekkan, sehingga timbul konflik. Bagi Sartre relasi cinta akan berakhir dengan kegagalan. Sartre ada kalimat khas 'orang lain adalah neraka bagiku (l'enfer, c'est les autres), hadirnya orang lain adalah awal kejatuhanku.
Cinta akan hadir jika para subyek yang saling bercinta bersedia memperlakukan pasangannya sebagai sesama (subyek). "Aku" tidak boleh merendahkan "Engkau", Engkau juga demikan, harus memandang aku sebagai subyek yang memilik ke-khasan tersendiri. Jika seseorang yang menganggap mencintai pasangannya, kemudian "menekan" atau mengobjekkan pasangannya, ketika itu cinta akan hilang, relasi kebersamaannya turun ke taraf hubungan "Aku-Itu"(Subjek-Objek), Seperti yang digambarkan JP. Sartre.
Pembahasan Cinta dalam tulisan ini sebagian besar beracuaan pada pandangan Gabriel Marcel. Dan mengutip juga pendapat JP.Sartre, untuk mengambarkan bahwa dalam hubungan ideal dalam cinta dapat menjadi saling mengojekkan, yang oleh JP. Sartre di sebut "benci." . Kemudian mengutip juga teori Erich Fromm tentang seni dalam cinta, sebagai pendukung dan melengkapi teori Gabriel Marcel. Dalam artikel ini hanya membahas cinta dalam hubungan pria-wanita, tidak membahas cinta secara umum.
Pada suatu saat, seorang pria bertemu dengan seorang wanita. Sang pria, memandang ke pada wanita, dia tertarik; pada saat itulah 'imbauan' mulai dilancarkan oleh si pria. Imbauan tersebut bisa dengan cara tersenyum manis, mengangguk sopan, atau dengan bahasa tubuh. Apa pengertian imbauan? Imbauan adalah mengajak secara halus, tidak ada paksaan, biasanya ajakan dalam cinta di wujudkan dengan simbol-simbol. Ajakan disini tidak diartikan mendekat secara fisik, tetapi ajakan agar 'hati' saling bertaut. Jika sang wanita tertarik, di pun melancarkan imbauan kepada sang pria. Maka terjadilah saling mengimbau, yang diwujudkan dalam kebersamaan yang bernama cinta.
Realitasnya, si pria dan wanita datang dari latar belakang pribadi, suku, pendidikan dan kebiasaan yang berbeda. Bila saling bersikeras mempertahankan 'keakuannya', tanpa mau 'kompromi' hidup bersama dalam cinta sulit terwujud, yang terjadi adalah konplik. Masing-masing ingin menang, saling berebut kekuasaan, ingin dituruti; ingin ada yang mengalah. Bila terjadi ada yang 'terpaksa' mengalah, artinya salah satu pihak yang menjalin cinta akan menjadi 'objek' dari yang lain. Hubungan konflik inilah yang mendasari teori Jean Paul Sartre. Bagi Sartre, hubungan kongkrit pria dan wanita hanya dua pilihan. Si pria tuntuk kepada wanita dengan menjadikan dirinya sebagai objek dari si wanita sebagai subyek; atau sebaliknya. Bagi Sartre hubungan dalam cinta akan berakhir dengan kegagalan, yang ada hanyalah kebencian. Teori Sartre banyak menuai kritikan. Dalam kehidupan kongkrit selalu ada saatnya kebersamaan itu terwujud, walaupun rentan pecah, bila tak dapat mempertahankan.
Apakah cinta dapat terwujud? Bagi Gabriel Marcel, kalau masing-masing objek yang bercinta mau meninggalkan keakuaannya, hubungan cinta dapat terwujud.
Saya punya satu ungkapan :"Biarkan cinta merubah dirinya, jangan kita ingin merubah diri orang lain dengan mengatasnamakan 'cinta." BukankaH pernah ada ucapan seperti ini?: "Kalau kamu cinta saya, kamu harus rapi, tidak boleh jorok. Kalau kamu tidak mau nurut, artinya kamu tidak cinta saya." Saya menonton film Indecent Proposal, yang dibintangi Demi Moore, berperan sebagai Diana Murphy. Dalam film tersebut, Demi Moore sangat 'sebel' pada suaminya Woody Harrelson yang berperan sebagai David Murphy. Sang suami punya kebiasaan buruk, bila pulang kerja dia akan meletakkan sepatunya sembarangan di atas meja. Suatu saat mereka berjudi di sebuah hotel mewah, kalah, uang habis. Mereka bingung. Tingkah-laku Demi Moore diperhatikan oleh seorang pengusaha kaya Robert Redford yang berperan sebagai John Gage. Robert Redford tertarik pada Demi Moore. Kemudian sang milyuner mendekati Demi More, dan menawari kencan dengan bayaran 1 juta dollar. Setelah berembuk dengan sang suami, proyek kencan disepakati.
Sementara sang istri menyelesaikan proyek perkencanan, sang suami Woody Harrelson bila pulang kerja sendirian. Biasanya hadir sang istri tercinta, sekarang tidak lagi; kecuali ditemani seekor anjingnya. Dia merasa kesendirian dan kesepian, mulai dia sadar bahwa dia sangat mencintai istrinya. Seperti biasa, dibuka sepatu dan dilemparkan keatas meja. Ditatap sepatunya, kemudian diambil dan diletakkan di tempat yang semestinya. Dia ingat, istrinya tidak suka dia berlaku 'jorok.' Karena dia cinta pada istrinya dia mau merubah kebiasaan buruknya, padahal ketika itu tidak ada yang menyuruhnya. Kekuatan cintalah yang merubahnya.
Apakah cinta itu abadi? Bagi Gabriel Marcel, kata kunci untuk melukiskan hubungan dengan sesama adalah 'kehadiran' (presence). Pengertian 'hadir' disini tidak boleh diartikan 'berada-bersama,' atau 'hadir-di-tengah-tengah-banyak-orang'. Hadir disini bukan berarti berada di tempat yang sama atau satu ruangan yang sama. Kata 'hadir' disini tidak boleh dipahami secara 'objektif', dengan menerapkan konsep 'ruang dan waktu'. Bisa saja terjadi komunikasi antara dua orang dalam satu ruangan, tapi tidak mencapai taraf kehadiran yang dimaksud Gabriel Marcel. Bisa saja 'kehadiran seseorang' cuma dalam aspek fungsional (hubungan 'Aku-Ia). Aku bertemu dengan penjual rokok, polisi jalan raya, kondektur bis; memang ada komunikasi tetapi tidak intens.
Dua orang baru dapat hadir jika 'aku dan engkau' saling memandang sebagai sesama, sehati-sejiwa, seia-sekata. Hadir terjadi jika 'aku dan engkau' saling mengadakan kontak dengan sungguh-sungguh, terjadi pertemuan antara 'persona dengan persona.Bagi Marcel, Pengalaman 'kehadiran' direalisasikan secara istimewa dalam cinta (l'amour), dalam kontek ini aku-engkau mencapai taraf cinta. 'Aku' dan 'engkau' diangkat sedemian rupa oleh cinta, menjadi suatu kesatuan baru yang tak mungkin terpisahkan, kesatuan yang sungguh-sungguh komunikatif.
Bagi Marcel, mencintai berarti mengatakan 'engkau tidak adakan mati.' Karena kehadiran disini mengatasi ruang dan waktu. Kalau seorang pria mengalami kematian istri yang dicintainya, kehadiran istrinya akan berlangsung terus. Karena sebenarnya sang pria tidak kehilangan orang yang dicintainya, dia hanya kehilangan sesuatu yang dia punyai. Dalam kontek pemikiran Gabriel Marcel, cinta itu abadi, tidak ada istilah putus cinta. Bukankah ada kenyataan? Seorang pria yang telah kematian istrinya; tidak mau menikah lagi, dengan alasan dia sangat mencintai istrinya, yang sudah berada di alam lain.
Dengan canda seseorang berucap : "Cinta perlu ongkos!" ungkapan itu betul! Dalam seluruh aspek kehidupan, kita perlu harta-benda untuk menopang sendi-sendi kehidupan. Tetapi, harta dan uang tidak dapat menjadi acuan untuk mencintai seseorang. Kalau dalam mencintai seseorang memakai kriteria 'kebendaan', berarti sesungguhnya dia tidak mencintai manusia lain sebagai pribadi. Dia hanya mencintai 'predikat' yang melekat pada seseorang : harta, benda, pangkat dan kedudukan, dan lain sebagainya. Cinta yang diawali oleh imbauan tertuju kepada 'hati' seseorang, bukan benda. Cinta berarti mau menerima seseorang sebagaimana dia ada, dengan kelebihan bakat-bakat rohani, bakat-bakat perasaan, watak dan tabiatnya. Cinta artinya menerima seseorang dengan kekurangan dan kelebihannya, kejeniusan dan ketololannya, keistimewaan dan kekonyolannya. Cinta harus dibangun dengan alasan niat yang bersih (suci), yang tertuju kepada subyek yang kita cintai; tidak dengan pretensi lain. Saya ingat satu judul lagi barat, yang mengdeskripsikan cinta : 'Ilove you just the way you're.'
Problematikanya? Pada mulanya subyek-subyek yang bercinta memang diliputi kebahagian dan kemesraan. Hati bertemu dengan hati, kebahagian terpancar; dibenak masing-masing hanya terpatri hanya si'dia.' Melalui pergaulan yang intens, mulai terasa banyak perbedaan; sifat, kebiasaan, karakter, adat istiadat dan sebagainya. Persekutuan dalam cinta dapat pecah, kemudian akan timbul konflik. Dalam hal ini, tidak ada jalan lain harus ada kemauan untuk saling membuka diri untuk mempertahankan mahligai cinta, dengan meninggalkan egoisme pribadi. Dalam kondisi ini trik-trik seni untuk mengikat erat cinta yang retak harus sama-sama diusahakan.
Untuk bersama secara fisi memang gampang, kita tinggal mengajak pasangan kita kemana pun kita pergi, kebersamaan itu pun bisa disaksikan orang lain. Tapi apakah hati masing-masing masih bertaut? Karena cinta itu bukan hubungan fisik, tetapi hubungan dari hati-kehati dengan segala ketulusan.
buku-buku acuan :
1. Dr. K. Bertens dan Drs. A.A. Nugroho (Red.), Filsafat Barat Abab XX, Jilid II,Prancis, Penerbit Gramedia, 1985.
2. Frans Syuni Stytto, Arti dan Prototipe Kehadiran Sesama, menurut Gabriel Marcel, Penerbit PT. BPK Gunung Mulia, Cet.I, 1988.
3. Khoirul Rosyadi, Cinta dan Keterasingan, Penerbit LKIS Yogyakarta, Cet.I,
Juni 2000.
4. FX. Mudji Sutrisno (Ed.), Manusia dalam Pijar-pijar Kekayaan Dimensinya, Penerbit Kanisius, Cet.I, 1993
@dhimas p.(26/04/2010)