Selasa, 20 Juli 2010

BILAKAH KEBAHAGIAAN DATANG?

Sebuah Renungan


"Aku bahagia kalau aku sudah kaya,"demikianlah jawaban bagi si miskin. Dia tentu membayangkan, kalau sudah kaya tentu punya mobil banyak, kemana-mana tidak naik angkutan umum; rumah mewah ber-AC, baju bagus-bagus dan ber-merek, perhiasan berlimpah, dan sebagainya. Dalam pikiran si miskin semua harta dan kemewahan itu akan membuat dia bahagia. Apa realitasnya demikian?

Saya teringat satu kisah yang pernah diceritakan oleh sahabat saya :
Pada suatu sore menjelang malam, disebuah pantai perkampungan nelayan. Diufuk barat mentari hampir tenggelang, namun menyisakan pemandangan yang sangat indah. Cakrawala dihiasi lukisan alam dengan nuansa warna merah yang eksotis.

Para nelayan bergegas mendorong perahunya ke laut. Dengan kondisi yang seperti ini sudah terbayang keuntungan yang akan diraih. "Tangkapan ikan pasti berlimpah,"pikir mereka.Tapi ada seorang nelayan, yang tidak terpengaruh kegiatan itu. Dia hanya duduk santai di perahu, sambil menatap keindahan alam. Raut wajahnya demikian takjub pada panorama yang dinikmatinya. Wajahnya bersih, bibirnya tersenyum simpul. Dari pancaran wajahnya tampak sekali dia sedang bahagia.
Tiba-tiba temannya menegur: "Hai,Bung! Anda tidak melaut?"
"Untuk apa?"
"Ya, menangkap ikan yang banyak, supaya anda banyak uang."
"Lantas?"
"Kalau ada punya banyak uang, anda bisa membeli perahu lagi. Kalau perahu banyak, tentu saja hasil ikan tambah banyak. Uang anda pasti akan berlimpah."
"Setelah itu?"
"Kalau anda sudah kaya, bukankah anda bisa membeli perpuluh-puluh perahu. Dan Anda hanya perlu merengkrut anak buah, anda menjadi saudagar ikan."
"Terus, kalau saya sudah jadi saudagar ikan, dan kaya-raya. Gimana?"
"Ya, anda akan bahagia."
"Lho, memangnya saya sedang apa?"


@dhimas_p.(24/04/2010}

Tidak ada komentar:

Posting Komentar